Menjadi wartawan atau reporter tidak perlu terikat dengan institusi media. Anda bisa menjadi wartawan sebagai warga atau masyarakat yang lebih kita kenal dengan istilah citizen journalist, participatory journalism, atau ada juga yang menyebutkan open source journalism. Sekarang ini citizen journalist sudah menjadi target utama bagi media sebagai salah satu sumber berita disamping wartawan yang bekerja pada perusahaan tersebut.
Di radio, televisi, bahkan media online (portal berita) ada istilah "dulu-duluan dapet berita" atau "eksklusif" . Salah satu sumber media mendapatkan berita atau informasi duluan adalah citizen journalist, karena mereka yang biasanya pada saat itu ada di lokasi kejadian.
Bisa dikatakan citizen journalist adalah narasumber A1 dalam sebuah peristiwa. Baru kemudian media mengirimkan tim liputan mereka untuk lebih memperdalam dan mengembangkan lagi informasi seputar peristiwa tersebut. Citizen journalist sudah menjadi salah satu sarana bagi media radio, televisi, dan online untuk meningkatkan rating dan kesetian audiensnya.
Reportase bukan lagi hak sepenuhnya wartawan atau reporter media massa. Sekarang setiap warga bisa melaporkan peristiwa kepada media. Radio dan televisi adalah media yang paling banyak memanfaatkan citizen journalits. Hal ini ternyata membantu media seperti radio dan tv mendapatkan informasi peristiwa yang lebih cepat langsung dari saksi mata lengkap dengan fakta awal yang ada.
Ada etika-etika yang juga harus menjadi pedoman bagi citizenjournalist. Paling tidak poinnya sama dengan jurnalis pada umumnya, seperti tidak menyebarkan berita bohong. Anda bisa berusan dengan polisi jika menyebarkan informasi bohong dan meresahkan masyarakat. Anda bisa berujung menginap di hotel prodeo. Tidak juga mencemarkan nama baik, karena ini juga sama bisa berakhir di hotel prodeo dan merugikan orang lain. Tidak boleh juga memicu konflik SARA dan memuat konten pornografi, dll.
Soal bagaimana anda melaporkannya jika menyampaikan informasinya ke media radio atau tv, tidak perlu kuatir, karena penyiarnya akan memandu anda menyampaikan informasi sesuai fakta yang anda lihat. Jika menyampaikan ke media cetak atau mengirmkan ke portal berita, juga tidak perlu kuatir, karena ada tukang editnya.
Biasanya anda akan lebih aman, karena medianya sudah melakukan proses klarifikasi dan konfirmasi atas kebenaran informasi yang anda sampaikan. Nah, kecuali jika anda mempostingnya di blog atau media internet yang tidak memberlakukan proses editing, maka resikonya silahkan anda tanggung sendiri.
Memang tidak semua informasi yang disampaikan oleh warga langsung diangkat oleh media, karena tetap harus melalui proses klarifikasi dan konfirmasi terlebih dahulu. Terutama klarifikasi dan konfirmasi soal fakta-fakta dilapangan yang dilihat oleh warga yang menyampaikan informasi tersebut. Biasanya media, seperti radio atau TV juga akan melakukan pengecekan kepada petugas terkait yang terdekat dari lokasi kejadian misalnya.
Jika petugas dilokasi terdekat tidak bisa dihubungi, maka media akan melihat apakah informasi tersebut disampaikan lebih dari satu orang, 3 atau 4 orang lainnya. Maka media akan memutuskan apakah informasi ini layak naik atau tidak. Biasanya, tinggal penyiarnya, di TV atau radio, memandu warga yang menyampaikan informasi dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali lebih jauh apa yang dilihatnya dilokasi.
Kenapa harus diklarifikasi dan dikonfirmasi terlebih dahulu? Ya, harus dan sangat penting, karena media bertanggungjawab kepada publik atas setiap berita yang disiarkan atau dimuat. Bisa saja informasi yang disampaikan ternyata adalah berita bohong yang ujungnya akan meresahkan masyarakat. Bahkan bisa sampai pada tuntutan hukum. Bisa dibayangkan media yang menyiarkan, menayangkan, atau memuatnya akan menjadi sasaran hujatan masyarakat. Filter yang ketat terhadap setiap informasi dari masyarakat harus dilakukan oleh media dan tidak asal menelan bulat-bulat setiap informasi yang masuk.
Nah itu jika informasinya on the spot, terutama untuk peristiwa yang diluar prediksi manusia, seperti longsor, tsunami, gempa, pesawat jatuh, dll. Ada juga katagori peristiwa-peristiwa menarik yang terekam oleh warga lewat kamera dan dikirimkan kemedia tv. Kemudian kiriman videonya ditayangkan oleh media penerima, maka inipun bisa disebut sebagai produk citizen journalist. Ada juga melalui tulisan ke media, seperti surat kabar, majalah, dan media internet. Semua informasi yang disebarkan dari luar sumbersaya media bisa disebut citizen journalism atau jurnalisme warga. Syarat paling mendasar menjadi citizen journalist adalah kemampuan menyampaikan fakta.
Namun, pakar-pakar pers ada yang melihat adanya salah kaprah soal pengertian citizen jornalist. Orang sering mengklaim bahwa dirinya adalah citizen journalist, padahal sebenarnya dia hanya memberi laporan atau menyampaikan informasi. Contohnya informasi tentang kemacetan lalu lintas, hujan deras di satu daerah, dan hal lain yang sifatnya baru sebatas memberikan laporan atau informasi. Warga yang memberi laporan atau informasi seperti itu sebenarnya baru lebih tepat disebut sebagai pewarta warga, belum sampai tahap jurnalisme warga (citizen Journalisme).
Bagaimanapun Jurnalisme mempunyai kaidah, prinsip, dan etika yang bisa saja diterapkan secara sederhana oleh warga. Paling tidak laporan dan informasi yang disampaikan tersebut mengandung fakta yang akurat, kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan, sudah ada proses verifikasi awal meski sederhana. Perbedaan antara citizen journalist dengan journalist sebenarnya akan lebih terlihat dari cara mereka menyampaikan laporannya langsung di jalur frekuensi TV atau radio.
Laporan seorang citizen journalist lebih polos, apa adanya, dan mengunakan bahasa seperti obrolan masyarakat biasa, bahkan logat kedaerahan yang khas. Journalist sebenarnya yang memang sudah melalui proses training cara menyampaikan laporan pandangan mata tentu akan lebih terstruktur, dukungan data yang lebih kuat, dan dilengkapi wawancara dengan pihak terkait langsung dilapangan terkadang juga ada.
Paling tidak ada 3 hal yang harus dipahami oleh masyarakat untuk menjadi seorang citizen journalist, yaitu :
- Bagaimana mengumpulkan fakta.
- Mengolahnya fakta tersebut menjadi sebuah berita, laporan, atau informasi awal yang memudahkan media penerima menindaklanjutinya.
- Bagaimana menyampaikannya melalui tulisan, suara, dan pengiriman gambar atau video.
Setelah tiga tahap tersebut, baru media seperti TV atau radio menyiarkannya. Kenapa menyiarkannya? Karena paling tidak dia akan dijadikan narasumber utama atau A1 oleh media penerima sebagai saksi mata peristiwa yang terjadi. Untuk melihat apakah sebuah produk informasi itu citizen journalism atau bukan, juga bisa dilihat dari dua hal, yaitu :
- Proses dan produknya apakah mengikuti kaidah kerja wartawan.
- Apakah produknya berupa fakta atau opini. Jika berupa opini, maka itu bukan citizen journalism. Jika proses maupun produknya sudah menerapkan kaidah jurnalistik, akan tetapi tulisannya dikirim ke media dan mendapat honor, walaupun ia warga biasa, ia bukan citizen journalist, tapi disebut sebagai stringer atau freelance.
Bagaimana sebenarnya awal citizen journalist dikenal didunia jurnalisme. Menurut berbagai sumber, cikal bakal citizen journalist sebetulnya adalah disaster journalist. contohnya, ketika terjadi peristiwa tsunami di Aceh tahun 2004, yang berhasil merekam peristiwa itu justru mereka yang bukan jurnalis. Mereka adalah orang biasa yang mengalami sendiri peristiwa bencana alam, lalu secara tidak sengaja mendokumentasikannya. Begitu pula pada saat terjadi peristiwa 9/11 di Manhattan, AS, informasi tercepat bersumber dari warga. Foto-foto, video, dan laporan pandangan mata disebarkan langsung oleh para korban.
citizen journalism sudah menjadi jalur bagi masyarakat dalam menyuarakan aspirasinya mengenai peristiwa di sekitar mereka tanpa pendidikan atau pelatihan jurnalistik secara profesional. Tehnologi gadget adalah sarana utama citizen journalist untuk menciptakan, menyebarkan, dan menguji sendiri kebenaran berita yang mereka dapatkan. Mereka tidak terikat dengan perusahaan media manapun, yaitu media-media yang saat ini sudah ada, seperti koran, online, TV, maupun radio.
Jurnalisme warga bisa ditemukan juga secara online dan muncul di Internet melalui blog, podcast, dan video streaming. Internet memberi orang rata-rata kemampuan untuk mengirimkan informasi secara global. Perkembangan tehnologi gadget ikut memberi andil besar perkembangan citizen journalism. Masyarakat dengan gadgetnya jadi lebih mudah mengirimkan foto, video, bahkan berita pendek dan informasi awal yang kemudian bisa dikembangkan menggunakan praktek jurnalistik profesional oleh media penerima. Belum lagi perkembangan media sosial seperti twitter makin mendorong perkembangan citizen journalism di Indonesia dan dunia.
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar