Kamis, 08 Oktober 2015

BAGAIMANA MENJADI WARTAWAN ANDAL ( Bagian 4 - Habis )

Jacob Oetama selaku pimpinan umum Kompas menjelaskan, bagi pers fakta adalah yang baru dan menarik. Baru menunjukkan kaitan waktu kejadiannya, terutama menunjukkan waktu diketahui secara khalayak (public).
Waktu di sini dapat absolute,bisa pula relative. Lebih sering disebut kejadian aktual. Juga bisa disebut menarik, karena peristiwa itu mempunyai makna, mengakibatkan sesuatu, memiliki pengaruh terhadap perkembangan.


Disebut menarik juga lantaran dapat mengimbau keingin tahuan orang, menggelitik perasaan , menggugah rasa kemanusiaan. Hal inipada mulanya tercakup  dalam fakta menyangkut peristiwa fisik dan konkret semata. Misalnya pemberitaan tentang adanya gempa bumi, kecelakaan pesawat terbang, gunung meletus, dan perang berkecamuk. Tapi ada juga peristiwa yang tidak konkret, peristiwa-peristiwa abstrak. Contohnya pidato, penemuan gagasan baru, pembicaraan dalam parlemen,perundang-undangangan maupun pengambil keputusan.

Spot news dan trend news

Semula fakta hanyalah kejadian-kejadian di luar pengetahuan manusia , yang mempunyai unsur mendadak sontak :
Gunung meletus, pecah perang,banjir, dan kapal tenggelam. Peristiwa semacam ini lantas disebut sebagai spot news. Sifatnya sekedar memberi tahukeadaan, tanpa membubuhi secara njilimet. Tapi kemudian muncul peristiwatambanhan ( sekunder) atau trend news, yaitu peristiwa yang direncanakan olehpers itu sendiri.

Terjadi dibangun bersama antara wartawan dan pihak lain. Contohnya wawancara dengan si-A atau melaporkan kaum gelandangan. Karena peristiwa itu sekunder yang bisa terjadi oleh buatansendiri, maka sering disebut juga disebut pseude event, kejadian semu.
Tapi dari kejadian primer dan sekunder termasuk kategori fakta, keduanya apabila actual dan menarik bisa menjadi bahan berita pers. Hanya untuk membedakan secara murni antara fakta dan opini, relative lebih mudah pada peristiwa primer.

Lebih sulit distingsi itudibuat dalam kategori peristiwa sekunder. Karena yang tercakup sebenarnya dalampengertian fakta dan opini adalah opini suratkabar itu sendiri, baik yang dilakukan oleh redaktur maupun wartawannya. Untukitu tentu ada tempatnya tersendiri, yakni dipisahkan pada ruang tajuk, pojokdan karikatur.
Dalam aliran jurnalistik baru lebih menitikberatkan pada trend news. 
Tom Wolte salah satu pelopor mashabjurnalistik baru di Amerika pernah mengemukakan antara lain : " Dalam jurnalisme Baru digunakan teknik-teknik penulisan novel dan cerita pendek. Wartawannya mengembangkan apa yang bisa dijumpai pada novel seperti dialog-dialog panjang,lukisan situasi, sudut tinjauan dan sebagainya." Ia juga menyusupkan ke dalam pengertian jika mampu sebagaimana layaknya penulis esei.
Juga harus melakukan kerja keras melakukan reportase turun kejalan atau lapangan, dalam pengertian antropologisserta menggabungkan semua itu. Semua elemen diharapkan lebur menjadi satubentuk tulisan.
Masalah utama mengarahkan bentuk opini dan fakta dalam batas jelas, hanya terletak pada sikap wartawani tu sendiri dalam berkarya. Kerja wartawan adalah buat living (hidup) jadi untuk menghasilkan karya pada public harus menaruh visi-visi tertentu, meski dalam kadar relative. Untuk ini tentunya dapat menjadi sandaran oleh anggapan sementara orang yang mengatakan, kerja didunia jurnalistik adalah rendah,menganggap remeh kalangan jurnalistik.

Tulisan memang diakui masyarakat sangat penting dan punya pengaruh besar terhadap masyarakat dan penguasa. Tapi sebagai karya, sering mendapat penilaian tak lebih dari karya "tukang " ( craft ), bukan art atau seni. (Sumber : buku karangan DjujdjukJuyoto berjudul Jurnalistik Praktis Sarana Penggerak Lapangan Kerja Raksasa).

Sumber berita

Kadang-kadang kita dengar, pagi hari seorang wartawan diberi tugas redaksi, setelah beberapa saat keluar sampai siang ternyata si wartawan tidak membawa hasil. Ketika ditanya, wartawan itu  menjawab, " Hari ini sepi tidak ada berita." Jawaban semacam itu tidak tepat dan kurang cocok, setiap manusia bergerak tentu menemukan berita. Tiap hari kita keluar atau jalan pastimendapat berita. Memang kadar berita itu sendiri berbeda-beda, pantas tidakdimuatnya itu tergantung kebijakan redaksi.

Namun jika kita sebagai wartawan yang berdedikasi tinggi, loyalitas pada profesi dan tanggung jawab sebagai pembawa informasi, pasti takkan kesulitan memperoleh berita. Semua instansi, tempat hiburan, kantor, sekolah, pejabat, karyawan dan segala sesuatu yang hidup menjadikan sebagai sumber berita yang tidak akan habis-habisnya. Karena itu setiap kita bergerak sudah pasti berita itu dengan sendirinya kita terima.

Menurut Djudjuk Juyoto dalam bukunya " Jurnalistik Praktis Sarana Penggerak Lapangan Kerja Raksasa," tugas pokokwartawan atau reporter adalah mencari dan mengumpulkan fakta untuk disampaikankepada publik sebagai bahan berita. Fakta dikumpulkan secara lengkap danmendalam, kemudian disiarkan dalam suratkabar.
Berita untuk surat kabar harian dibikin secara cekak aos,ditulis to the point (cepat,padat,jelas dan menarik), menggunakan sistem piramida terbalik. Penting  terlebih dulu baru kemudian bumbu-bumbunya.

10 %
20 %              Persentasi bobot
30 %
40 %

Piramid Terbalik

Berita dalam dunia jurnalistik merupakan kerja pokok, khususnya suratkabar harian. Karena sebagian besar isi suratkabar pada hakikatnya merupakan hasil kerja reporting. Untuk itu tentunya siwartawan harus pintar-pintar memilih berita yang layak disebarkan kepada publik.
Kalau di Negara barat adafalsafah berbunyi : "Kalau anjing menggigit manusia bukanlah berita, tapi kalau manusia gigit anjingitu baru berita."Falsafah barat itu sendiri bila kita telaah tentu menimbulkan problem sulit lagi, yakni si-wartawan bila mencariberita hanya sifatnya sensasi tentu tidak akan menemukan tiap hari.
Guna menghindarkan hal semacamitu, maka wartawan dibekali formula cukup efisien, yakni : yang dikenal 5W + 1Hyang diketemukan oleh kantor berita Associated Press (AP) tahun 1930.
Berita dianggap secaraelementer lengkap bila di dalamnya terdapat unsur-unsur What, Who, Where, When, Why danHow (5W + 1 H).Formula ini terus dipegang dan di jadikan patokan bagi wartawan.

Suatu berita patut disiarkan bila tertentu, kapan terjadinya, dimana,siapa, mengapa, dan bagaimana itu sendiri terjadi.

Formula ini terus dipegang,namun belakangan ini sedikit goyah. Terutama bagi si wartawan yang berasal darimedia elektronik, televisi, dan radio. Untuk bikin berita bagi mereka jugamengutamakan security (keamanan), baik sebagai pribadi maupun tugas pokoknya.
Disamping mencari informasimelalui instansi/kantor, juga dapat melalui sumber berita yang layak ( Raisond'etre de la Nouvella).
Sumber berita yang layak sering digunakan antara lain :
Melalui kantor berita;dalam bentuk telegram,bulletin, dan telex

Wawancara

Umum, dilakukan pada saat konferensi pers (press conference)
Khusus, dilakukan secara khusus baik oleh wartawan, redaktur, koresponden ataupun pembantu khusus
Monitoring-catch, menangkap suatu informasi melalui tempat atau sumber tertentu
Mengutip / Menyadur dari surat kabar, majalah atau dari media massa lainnya.
Informan : Pada surat kabar besar biasanya memiliki beberapa informan untuk menyadap informasi yang sebetulnya masih of the record.
Informan ini biasanya dilakukanoleh pejabat/karyawan mengetahui seluk-beluk masalah yang seharusnya bersifatintern. Untuk itu bisa kita lihat kadang-kadang ada surat kabar yang begitu cepat mendapatinformasi tentang suatu rencana yang masih dalam pembicaraan intern

Press release
Melalui newsgether
Off the record news sebagai background information
On the record news
Cara-cara lainnya.

Alat  alat Kerja Wartawan: 

Kamera,Id card, Rekaman dll.

( Disunting oleh Persatuan Wartawan Nasional Kota Bandung dan diambil dari beberapa sumber https://www.facebook.com/notes/154304454584329/ )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar