Kamis, 08 Oktober 2015

BAGAIMANA MENJADI WARTAWAN ANDAL ( BAGIAN 3 )

Lahirnya Suatu Berita

Pers dalam tugasnya menyebarkan informasi secara luas yang berisikan fakta-fakta dan nilai-nilai.
Fakta disajikan untuk memberitahukan tentang : person, peristiwa, keadaan, perubahan, kejadian dan sebagainya sebagaimana adanya.

Kemudian nilai disertakan pada materinya yang beraneka jenis, pendapat, tinjauan, inteprestasi ,keterangan dan lainnya, sekiranya mempunyai arti bagi orang-orang yang menerimanya.

Menurut Djudjuk Juyoto dalambukunya " Jurnalistik Praktis Sarana Penggerak Lapangan Kerja Raksasa,"pesan-pesan pembawa fakta membawa nilai tertentu, yaitu berita, bila di pilih dan disajikan memenuhi syarat-syarat sebagi berita. Disamping itu juga ada "nilai tambah , " suatu nilai yang dapat diusahakan dengan membutuhkankelengkapan-kelengkapan kepada fakta, dengan hal yang dibutuhkan serta diinginkan oleh penerimanya.

Dan opini itulah merupakan materi " nilai tambah " berkenaan dengan fakta, karena itu juga merupakan salahsatu bentuk penyajian nilai.

Nilai tertentu sebagai sebagai isi surat kabar adalah berita, dan ini merupakan isi terpenting daripada suratkabar.

Dari kecepatan, ketepatan dan kelengkapan pemberitahuan tergantung dari " gengsi " surat kabar bersangkutan. Untuk itu, surat kabar tidak hanya memerlukan banyak wartawan, tapi juga informan yang harus di sebar dimana-mana. 

Apa Berita itu ?

a. Ada banyak definisi tentang beritaitu sendiri, namun dalam keanekaragaman definisi tersebut selalu terdapatpersamaannya, yaitu sebagai reader's interest, sesuatu yang dapat menggerakanpikiran dan perasaan para pembaca, atau yang dapat membangkitkan keinginanpembaca untuk mengetahui.

b. Prof. Wilbur Scramm, dalam hubungannya dengan berita mempunyaihipotesa yang didasarkan pada eksperimen melalui bukti kenyataan (evidence)sebagai berikut  : "saya kira adalahsuatu yang jelas apabila sesorang memilih suatu kabar yang dapat membangkitkansemangat, karena mereka mengharapkan ganjaran dari yang dibacanya. "Atas dasaritu Wilbur Schramm lalu membaginya dalam dua hal pokok :

    1. Berita yang mampu memberi dampak psikologis, seperti kejahatan (crime),Korupsi, sex, sport, human interest, social, kecelakaan (accident), dan sisters(bencana).
    2. Berita yang memberikan delayed rewards (ganjaran yang tertunda),misalnya public affaire ( peristiwa umum ),economics matters ( bahan ekonomi).Social problem (masalah social,science, education helth dan sejenisnya.

c. Suatu kabar yang disiarkan bernilai positip berguna bagimasyarakat luas. Aktualisasinya terjamin, memenuhi selera pembaca. Tapiberdasarkan kecenderungan yang ada, public lebih menyukai suatu kabar yangberbau war ( perang), sex, dan crime (kejahatan). Untuk itu maka Prof.E FraserBont mengemukakan : "four main factor determine the value of news." Lalu untuk mengefiesiensikan suatu berita makapara publicity expert menemukan formula berita sebagai berikut :

NV     =  T – A – I – HI
NV     =  News Value ( nilai berita )
T       =  Time ( waktu )
A       =  Authouriy (tulisan)
I        =  Importance (penting)
HI     =  Human Interest

Berita harus menarik perhatian pembacanya, harus sesuai dengan reader's interest, dapat memenuhi danmenjadikan kepentingan serta perhatian pembacanya.

Masalah berita,antara fakta dan opini

Bila suatu berita menyinggung keliru – suatu pihak, akibatnya tidak mengenakkan, biasanya langsung menuduh wartawan mencampur adukkan antara fakta dan opini ( pendapat wartawan).Kenyataan itu tidak mengenakkan banyak pihak, bagi wartawan maupun pihakbersangkutan.
Dalam teori wartawan dalam menulis berita(laporan) memang dilarang mencampuradukannya. Ucapan paling terkenal berasaldari redaktur Manchester Guardian: "Fact are sacred, opinion is free." Fakta itu suci,sedangkan pendapat, opini, bebas.
Untuk mencari batasan antarafakta dan opini sangat sulit, hanya setebal kulit bawang. Untuk itu, jikaterpeleset sedikit dari fakta ke opini sulit membedakan secara pasti. Bilaberita langsung (straight news), sifatnya hanya mengabarkan bisa ditampilkanfakta 'murni'.
Tapi kalau sudah menuju sebagaikebutuhan pembaca pada bentuk reportase, wartawan harus memberikan gambaran,interpretasi sebagai ilustrasi.

Dalam Kode Etik Jurnalistik Wartawan Indonesia Pasal 3 ayat (3) berbunyi : " dalam menyusun berita,wartawan Indonesia membedakan antara kejadian (fakta) dan pendapat (opini).
Sehingga tidak mencampurbaurkan yang satu dengan lainnya. Untuk mencegah berita diputar balik atau dibumbui secara tak wajar."

Melihat itu, sudah barang tentu landasan operasional wartawan makin jelas. Namun dalam dinamika selanjutnya publik kian membutuhkan satu berita yang mengandung analisa, tidak hanya permukaan saja. Bukan mentah-mentah apa yang dilihat lantas diberitakan.

Menuju kearah ini tentu wartawan berhak menganalisa, menyaring secara jeli berdasarkan pengamatan kritis dan korektif. Di sinilah wartawan selayaknya tidak sekedar menyampaikan  informasi, melainkan mampu menumbuhkan gambaran, menjadi peneliti dalam suatu masalah serta memberi alternatif.

Bersambung ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar